Selasa, 27 November 2012

Inilah Hidupku.._


Dear Diary.._
23 tahun aku menjalni hidup, dan 23 tahun pula penderitaan tak pernah henti-henti mendatangiku, saat umurku tujuh bulan, orang tuaku bercerai, hilanglah sudah sosok seorang ayah yang seharusnya kudapatkan untuk kujadikan panutan dimasa kecilku, saat itu aku menjadi bayi lelaki yang jauh lebih labil dari seluruh bayi diseluruh dunia, tapi.. puji syukur untuk Allah yang menjadi Tuhanku dan Tuhan seluruh umat manusia dimuka bumi ini, Tuhan berkehendak lain untuk sisi kelabilanku, Allah masih memberiku seoarang kakek yang baik hati sebagai pengganti dari  ayahku, seorang kakek paling istimewa yang jauh lebih baik dari seluruh ayah yang pernah ada didunia, sekuat tenaga beliau mengajariku banyak hal, pelajaran yang seharusnya kudapatkan dari seorang lelaki bernama Ayah, aku diasih dan diasuhnya, aku di didik dengan pengalaman masa mudanya yang penuh dengan kepedihan, diajari menaklukkan kepiluan dengan senyuman, aku merasa mendapatkan kembali apa yang tak kudapatkan, meski aku tahu, seharusnya kudapatkan lebih dari itu, tapi saat kekecewaan pada hidup menjalar dalam hatiku, kakek selalu berusaha mematri sebuah pelajaran penting dalam jiwaku, tentang : ” bersyukurlah nak atas apa yang Allah berikan padamu meskipun berupa kesedihan, karena saat Allah memberimu kesedihan, saat itu Allah memberikan kunci untuk membuka pintu kebahagiaan, hanya saja banyak manusia melihat dari sisi yang berbeda dari yang seharusnya!!”  aku bersyukur dapat memiliki seorang kakek arif nan bijaksana, yang dengan sekuat tenaga mengajariku berjalan menapaki kehidupan, mengobarkan semangat juang dalam jiwaku, aku tahu beliau sempat lelah mengasuhku, tapi aku lebih tahu bahwa beliau tak pernah mengeluh didekatku, entahlah.. beliau adalah sosok yang seharusnya aku tiru sekuat tenaga.._ hmm.. terima kasih ya Allah untuk seorang kakek yang baik hatinya, 23 tahun bersamanya, kutarik sebuah kesimpulan dari semua yang diajarkannya, bahwa: Penderitaan adalah syarat mutlak untuk kebahagiaan yang sesungguhnya, maka belajarlah menderita, karena saat kau belejar menderita kau sedang belajar untuk meminang bahagia!!” kakek, terima kasih untuk segalanya!!!
Diary.._
Saat aku kelas dua SD, entah umurku sudah berapa tahun waktu itu, ibuku melanjutkan pendidikannya, beliau kembali kepondok untuk mengejar kambali cita-citanya yang sempat terputus oleh takdir untuk melahirkanku kedunia, sehingga terpaksa beliau harus meninggalkanku dirumah, saat itu, aku mulai merasa sempurna memiliki alasan untuk melihat kehidupan dari sisi penderitaan, aku tak tahu siapa yang harus disalahkan, yang aku tahu Allah selalu menyertakan sebuah alasan untuk setiap kejadian, karena Allah tak pernah menjadikannya sia-sia, dan Allah selalu tahu apa yang dibutuhkan setiap hambanya meski terkadang tak sesuai dengan apa yang diinginkannya, aku tak pernah meilih untuk terlahir dari keluarga yang bercerai ini, tapi Allah memberikannya padaku, dan aku harus menerimanya walaupun terasa sepahit pilu, karena aku yakin, Allah tak pernah mendhalimiku, dan Allah tahu bahwa keluarga yang bercerai inilah yang aku butuhkan, lalu, Aku tak pernah benar memiliki alasan untuk membuat syukurku tertahan, terima kasih Tuhan!!


Diary.._
Hidup terus berlanjut, masih ada banyak penderitaan yang harus kutaklukkan untuk meminang kebahagiaan yang kudambakan, mungkin aku masih harus berjuta kali bertemu kubangan luka dan terjatuh didalamnya, tapi seperti yang kakek ajarkan, aku harus bangun kembali untuk mengejar bahagia, jalanku masih terlalu panjang untuk berhenti sejenak mengeluhkan keadaan, aku harus kuat bertahan dan melanjutkan perjalanan, meniti setiap undakan di jembatan hidup dari takdir ketakdir lainnya, menjemput luka dan menuai tawa, adalah tugasku sebelum  sampai dipemberhentian lama, kematian!! (26 November 2012)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar