Dear Diary.._
23 tahun aku menjalni hidup, dan 23 tahun pula penderitaan
tak pernah henti-henti mendatangiku, saat umurku tujuh bulan, orang tuaku
bercerai, hilanglah sudah sosok seorang ayah yang seharusnya kudapatkan untuk
kujadikan panutan dimasa kecilku, saat itu aku menjadi bayi lelaki yang jauh
lebih labil dari seluruh bayi diseluruh dunia, tapi.. puji syukur untuk Allah
yang menjadi Tuhanku dan Tuhan seluruh umat manusia dimuka bumi ini, Tuhan
berkehendak lain untuk sisi kelabilanku, Allah masih memberiku seoarang kakek
yang baik hati sebagai pengganti dari
ayahku, seorang kakek paling istimewa yang jauh lebih baik dari seluruh
ayah yang pernah ada didunia, sekuat tenaga beliau mengajariku banyak hal,
pelajaran yang seharusnya kudapatkan dari seorang lelaki bernama Ayah, aku diasih dan diasuhnya, aku di
didik dengan pengalaman masa mudanya yang penuh dengan kepedihan, diajari
menaklukkan kepiluan dengan senyuman, aku merasa mendapatkan kembali apa yang
tak kudapatkan, meski aku tahu, seharusnya kudapatkan lebih dari itu, tapi saat
kekecewaan pada hidup menjalar dalam hatiku, kakek selalu berusaha mematri
sebuah pelajaran penting dalam jiwaku, tentang : ” bersyukurlah nak atas apa yang Allah berikan padamu meskipun berupa
kesedihan, karena saat Allah memberimu kesedihan, saat itu Allah memberikan
kunci untuk membuka pintu kebahagiaan, hanya saja banyak manusia melihat dari
sisi yang berbeda dari yang seharusnya!!” aku bersyukur dapat memiliki seorang kakek
arif nan bijaksana, yang dengan sekuat tenaga mengajariku berjalan menapaki
kehidupan, mengobarkan semangat juang dalam jiwaku, aku tahu beliau sempat
lelah mengasuhku, tapi aku lebih tahu bahwa beliau tak pernah mengeluh
didekatku, entahlah.. beliau adalah sosok yang seharusnya aku tiru sekuat
tenaga.._ hmm.. terima kasih ya Allah untuk seorang kakek yang baik hatinya, 23
tahun bersamanya, kutarik sebuah kesimpulan dari semua yang diajarkannya,
bahwa: Penderitaan adalah syarat mutlak
untuk kebahagiaan yang sesungguhnya, maka belajarlah menderita, karena saat kau
belejar menderita kau sedang belajar untuk meminang bahagia!!” kakek,
terima kasih untuk segalanya!!!
Diary.._
Saat aku kelas dua SD, entah umurku sudah berapa tahun waktu
itu, ibuku melanjutkan pendidikannya, beliau kembali kepondok untuk mengejar
kambali cita-citanya yang sempat terputus oleh takdir untuk melahirkanku
kedunia, sehingga terpaksa beliau harus meninggalkanku dirumah, saat itu, aku
mulai merasa sempurna memiliki alasan untuk melihat kehidupan dari sisi
penderitaan, aku tak tahu siapa yang harus disalahkan, yang aku tahu Allah
selalu menyertakan sebuah alasan untuk setiap kejadian, karena Allah tak pernah
menjadikannya sia-sia, dan Allah selalu tahu apa yang dibutuhkan setiap
hambanya meski terkadang tak sesuai dengan apa yang diinginkannya, aku tak
pernah meilih untuk terlahir dari keluarga yang bercerai ini, tapi Allah
memberikannya padaku, dan aku harus menerimanya walaupun terasa sepahit pilu,
karena aku yakin, Allah tak pernah mendhalimiku, dan Allah tahu bahwa keluarga
yang bercerai inilah yang aku butuhkan, lalu, Aku tak pernah benar memiliki alasan untuk membuat syukurku tertahan,
terima kasih Tuhan!!
Diary.._
Hidup terus berlanjut, masih ada banyak penderitaan yang
harus kutaklukkan untuk meminang kebahagiaan yang kudambakan, mungkin aku masih
harus berjuta kali bertemu kubangan luka dan terjatuh didalamnya, tapi seperti
yang kakek ajarkan, aku harus bangun kembali untuk mengejar bahagia, jalanku
masih terlalu panjang untuk berhenti sejenak mengeluhkan keadaan, aku harus
kuat bertahan dan melanjutkan perjalanan, meniti setiap undakan di jembatan
hidup dari takdir ketakdir lainnya, menjemput luka dan menuai tawa, adalah
tugasku sebelum sampai dipemberhentian
lama, kematian!! (26 November 2012)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar