Dengan nama Allah kumulai menulis rentetan kata yang mungkin
tak berharga ini, rentetan bahasa yang mungkin tak sempurna, sesempurna bahasa
yang kau punya, tapi biar bagaimanapun adanya,(berharga atau tidak)dengan
segala kelebihan dan kekurangannya, kumohon bacalah dengan seksama, karena
hanya inilah (bahasa) yang aku bisa dan aku punya, jujur.., aku bukanlah
sayidina Abu Bakar As-Shidiq yang seluruh tingkah dan perkataannya dipenuhi
dengan kasih sayang, sehingga setiap bahasa yang keluar dari lisannya tak ada
lain kecuali bahasa syurga yang mempesona, dan aku juga bukanlah sayidina Umar
Alfaruq yang memiliki keberanian yang luar biasa, yang tak memiliki sedikitpun
rasa takut kecuali pada penguasa alam semesta, sehingga setiap perbuatan dan
perkataannya sanggup menggetarkan relung mayapada, pun juga aku bukanlah sayidina
Utsman bin Affan yang memiliki kemerduan suara yang tak ada tandingannya,
sehingga bacaan Al-qurannya begitu indah didengar oleh setiap telinga, seindah
bunga mawar yang baru merekah dari kuncupnya, akupun bukanlah sayidina Ali (Babul
I’lm) yang memiliki kecerdasan dan ketangkasan fikiran yang mengagumkan,
sehingga keluasan pengetahuannya adalah harta paling berharga yang pernah
dimiliki dunia, aku bukan mereka semua, aku hanyalah seorang pengembara yang
berkelana dari takdir ketakdir yang mencoba mencari perbekalan untuk menghadapi
takdir selanjutnya, aku hanyalah pemuda miskin yang tak memiliki apa-apa
kecuali cinta, cinta yang selalu kujaga agar selalu tetap dijalanNya, disini..,
aku tak ubahnya seperti siti masyitoh yang menjaga keyakinannya ditengah-tengah
orang-orang yang tak sepaham dengannya, dan aku adalah seorang pemuda yang
berusaha berpuasa sedangkan di sekelilingku terdapat beraneka ragam makanan
yang begitu luar biasa nikmatnya, dengan kata lain, disini aku hanyalah seorang
pemuda labil, yang berusaha berjalan diatas perahu yang dipermainkan gelombang,
satu kali saja terpeleset maka akan terjatuh dan sulit untuk bangun kembali,
sehingga jika suatu saat kau temukan aku sedang terjatuh dalam kesalahan _dan
aku masih juga belum tersadar dari kesalahan itu_ maka dengan kemampuan
pengemis terlemah didunia, aku mengemis padamu agar kau sudi menyiramiku dengan
air pengetehuanmu yang meyejukkan, jujur, dari setiap kesalahan yang aku
lakukan, banyak diantaranya adalah kesalahan yang memang aku ketahui, tapi
tetap saja tak mampu aku tinggalkan, sebenarnya aku tak terlalu butuh
pengetahuan, karena aku takut tak bisa mengamalkan, aku hanya butuh penyadaran
dan pengalaman terhadap perbuatan, karena aku yakin itu lebih baik dari seribu
keinginan, bukankah seekor semut yang mati kelaparan itu lebih baik dari seribu
semut yang mati di lumbung makanan?! Aku hanya ingin menjadi manusia yang baik
meski bukan yang terbaik, karena bagiku tak ada yang lebih baik dari seorang
hamba yang baik,_
Mohon dirahasiakan,_
Al-amien
19 feb 2011
Hamba
Tidak ada komentar:
Posting Komentar